oleh

Guru Ngaji di Desa Gedung Agung Keluhkan Ketidaktransparanan Honor yang Diberikan

LAHAT, ENIMTV – Beberapa guru ngaji di Desa Gedung Agung, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat mengeluhkan ketidaktransparan akan honor yang diberikan oleh pemerintah desa terhadap mereka.

Hal tersebut diungkapkan oleh Jakarudin (54) dan Siwarti (43), warga desa Gedung Agung lingkungan 6, yang kesehariannya berprofesi sebagai guru ngaji, kepada Enimtv.com.

Keduanya menuturkan bahwa sejak dari tahun 2016, mereka tidak pernah mendapatkan kejelasan tentang berapa nominal gaji honor yang semestinya mereka terima.

“Sejak dari tahun 2016 honor kami tidak jelas, memang pernah dibayar di tahun 2018 lalu Rp900.000/orang, namun setelah itu belum ada pembayaran lagi. Hingga kemarin pas tanggal (16/1/2020) baru dibayar lagi sebesar Rp1.500.000, itupun dibagi 2 hingga masing-masing dari kami hanya memperoleh Rp750.000.” tuturnya.

Baca juga:  Gegara Bercanda Peloroti Celana di Acara Hajatan, Darsan Tewas Ditikam Junaidi

“Bahkan saat Musdes untuk penetapan honor bersama BPD dan perangkat desa, kami tidak pernah dilibatkan maupun diundang” ujar Jakarudin dan Siwarti saat Enimtv.com menyambangi mereka di rumahnya pada Senin (18/1/2020) sekitar pukul 17.00 WIB.

Sebagai informasi tambahan, Jakarudin dan Siwarti adalah 2 dari 15 guru ngaji yang mengajar di Desa Gedung Agung, dari Senin s.d. Sabtu mereka mengajar ngaji kepada anak anak di desanya.

Sementara itu, Kepala Desa Gedung Agung, Rahmad Agung Syah saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada pukul 18.00 WIB belum bisa memberikan klarifikasinya dengan alasan dirinya sedang rapat. Namun Enimtv.com berhasil menemui operator desa setempat, ibu Nevi selaku perangkat desa yang membuat SPJ honor guru ngaji di tahun 2020.

Baca juga:  Beredar Isu Ijazah Palsu, Bupati Lahat Cik Ujang: Lagu Lama Kaset Baru!

Nevi menjelaskan bahwa honor guru ngaji di tahun 2020 dianggarkan dari Dana Desa sebesar Rp250.000 ×12 bulan = Rp3.000.000/tahun/orang.

“Namun karena ada pemangkasan refocusing ke penanggulangan Covid-19 sebesar 50%, jadi tinggal Rp1.500.000/tahun/orang,” jelasnya.

Menurut Nevi, berdasarkan petunjuk teknis dari pendampingan desa, guru ngaji yang berhak mendapatkan honor kriterianya memiliki murid minimal 15 orang, sementara Jakarudin dan Siwarti muridnya kurang dari 15 orang.

Baca juga:  Program Subsidi bagi UMKM Berlaku Seluruh Indonesia Bukan Hanya Pulau Jawa

“Jadi berdasarkan keputusan kami hanya 6 guru ngaji di Desa Gedung Agung ini yang memenuhi kriteria tersebut, (6 orang × Rp1.500.000 = Rp9.000.000) dana yang diangarkan. Kebetulan guru ngaji banyak jadi dibagi-bagi lah duitnya,” ujar Nevi kepada Enimtv.com di rumahnya.

“Untuk honor di tahun-tahun sebelumnya saya tidak tahu. Karena saya hanya membuatkan SPJ di tahun 2020 ini,” imbuhnya.

Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya meminta keterangan dari Dinas Pemdes Pemkab Lahat akan kebenaran honor yang semestinya diterima oleh guru ngaji di Desa Gedung Agung. (Endi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *