Mengenang, Satu Abad Batu Bara Tanjung Enim

Berita, Sumsel2,468 views

LAHAT, ENIMTV – Sebagai kata orang bijak, bahwa mengenang perjuangan para sesepuh kita terdahulu adalah sebuah keniscayaan yang dapat menginspirasi para penerusnya untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis menjadi lebih baik lagi. Hal itu terjadi pula kepada batu bara yang banyak tersimpan di Bumi Serasan Sekundang, persisnya di Tanjung Enim.

Pada periode tahun 1923 hingga 1940, Tambang Air Laya yang dikelola perusahaan Belanda mulai menggunakan metode penambangan bawah tanah, dan pada periode tersebut mulai dilakukan produksi untuk kepentingan komersial, tepatnya sejak tahun 1938. Namun sebelum itu batu bara telah dimanfaatkan oleh warga masyarakat Tanjung Enim sebagai bahan bakar di dapur-dapur keluarga.

Sejalan dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan tingkat kecerdasan berpikir anak-anak pada zamannya lebih fokus memaksimalkan usaha untuk hidup lebih baik, apalagi kehidupan di masa penjajahan yang serba sulit perlu usaha yang kreatif.

Adalah kakek buyut kami yang nama kecilnya Rebangun, lahir pada tahun 1838 di Desa Asam Kelat (sekarang Singapura) Ogan Komering Ulu, yang di masa balitanya menjadi yatim kemudian dibawa hijrah oleh buyut perempuan mengikuti buyut laki sebagai “sambungan” di Tanjung Enim.

Di Tanjung Enim inilah kakek Rebangun yang masih balita memperoleh saudara tiri 2 orang yakni Renajab dan Benasib sebagai buah perkawinan buyut perempuan dari Ogan tersebut. Kakek Rebangun yang kian besar mampu mengasuh adik-adiknya dengan baik, dilatihnya belajar berenang di Sungai Enim dan dengan imajinasinya dia mulai tertarik dengan adanya lapisan batu berwarna hitam di tepi dan di dasar Sungai Enim dan dicobanya menggali batu bara yang tersingkap oleh gerusan air sungai yang bening selalu deras mengalir.

Dari tangan-tangan mereka terkumpul batu bara yang bermutu bagus cukup banyak, lalu di masa remajanya itu pula kakek Rebangun mengajak adik-adiknya membuat rakit bambu dan memuatinya dengan batu bara yang digali di pinggir sungai tersebut, untuk dibawa berlayar ke Palembang mengarungi Sungai Enim, Lematang dan Musi.

Baca juga:  HD Resmikan Jembatan Lematang 2 dan Sejumlah Infrastruktur di Kab. Lahat

Pelayaran di sungai yang cukup melelahkan hingga 10 hari lebih, namun tak menyurutkan semangat ketiga remaja tersebut dan di Tanggo Buntung, Palembang rakit bambu yang dinahkodai kakek Rebangun dibantu adik-adiknya mendarat.

Batu bara dibeli oleh Wan Abud saudagar Arab dan bambu-bambunya dibeli oleh Toke (red. pebisnis) Cina Atjuan yang memproduksi lampion di kawasan Tanggo Buntung.

Demikian masa mudanya kakek Rebangun dan adik-adiknya berjuang dan berikhtiar di bidang perdagangan guna mendapatkan gulden Belanda pada masa penjajahan itu.

Di usia 20 tahun, kakek Rebangun telah berkeluarga dengan mempersunting gadis pujaannya dari Muara Enim. Menurut catatan keluarga, bahwa nenek adalah dari rumpun keluarga Pangeran Danal yang kala itu sangat disegani Belanda.

SUNGAI ENIM UNTUK TRANSPORT

Dari perkawinan kakek Rebangun dengan nenek dari Muara Enim inilah lahir putra putrinya sebanyak 3 pasang yakni: Damang (sulung), Nangcik dan Tjik Olah (bungsu) serta 3 saudara perempuan lainnya. Sejak itulah kakek Rebangun makin dikenal oleh pemerintah dan pengusaha Belanda karena usaha penjualan batubaranya dengan rakit berhasil baik dan lancar, sehingga kekek menjadi pengusaha batu bara yang sukses dan bonafide kala itu.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1860an, kakek terpilih sebagai Kerio Tanjung Enim dan saking lamanya beliau menjabat (lebih dari 35 tahun) predikat nama beliau menjadi Rebangun Kerio. Sebutan Kerio itu menjadi merek dagang kakek sebagai pengusaha batubara yang sukses. Sebelum kemerdekaan, kakek Rebangun Kerio pergi haji ke tanah suci dengan kapal laut. masa itu memerlukan waktu sekitar 4 bulan perjalanan. Sepulangnya ke tanah air kembali, kakek Rebangun mendapat “gelar baru” sebagai H. Abdurahman yang mampu pula memotivasi putra putrinya untuk berhaji selagi usia muda.

Baca juga:  Konflik Lahan dengan Perusahaan Tambang, Politisi Gerindra Kabupaten Lahat Diduga Dikriminalisasi

Salah seorang putra kakek Rebangun Kerio ini adalah si putra bungsu yang bernama Tjik Olah, berhasil pula melanjutkan usaha batu bara sang ayah yang selama bertahun selalu ikut berlayar dengan rakit bambu ke Palembang. Seusai menjual habis batu bara berikut rakitnya, sang putra bungsu dan kakek Rebangun selalu setia pulang ke Tanjung Enim dengan naik sepur (red. kereta api uap) dari Kertapati. Perjalanan rakit hampir 13 hari ditambah perjalan sepur kala itu hampir pula 3 hari, menjadikan kesibukan tersendiri bagi Tjik Olah muda yang pada usia 20 tahun pula berhasil mempersunting seorang gadis nan jelita dari desa tepi Lematang yakni Penanggiran, yang menjadi ibu kandung penulis.

Ibunda Mursihu, bukan perempuan biasa,dia sangat patuh dan setia kepada suami dan dia gigih pula mengasuh, membesarkan anak-anaknya sebanyak 10 orang. Namun dengan kesibukan itu tidak mengurangi aktivitasnya untuk membantu suami yang kala itu telah menjadi pegawai TABA dan tidak lagi dapat melakukan penjualan batu bara dengan rakit.

Ayahanda yang pegawai merangkap petani dan ibunda yang petani merangkap pedagang selalu rukun dan damai. Hal ini terjadi sejak penambangan batu bara secara komersil oleh TABA dengan dibukanya Tambang Air Laya sekitar tahun 1930an dalam masa penjajahan. Ayahanda terpaksa rela menjadi pegawai TABA, namun Ayahanda turut memperjuangkan kemerdekaan dengan menjadi kader PNI yang selalu menyuarakan kemerdekaan Indonesia melalui jalur politik yang dipimpin sang proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.

Di Sumatera Selatan, ayahanda Tjik Olah selalu mengikuti gerak langkah perjuangan Dr. A.K Gani yang gigih berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Di masa-masa perjuangan itulah kaum politisi seperti ayahanda sering ditangkap Belanda dan internir seperti Bung Karno. Ayahanda diinternir di beberapa tempat seperti pernah di Bengkulu dan pernah pula di Boom Baru Palembang. Bahkan sewaktu kelahiran putranya yang ke-8 (Muhammad Goerillah) tahun 1950 yakni masa agresi Belanda 2, ayahanda kala itu (sejak Agustus 1949) masih diinternir di Boom Baru, sehingga kelahiran putra ke-8 itu ibunda Mursihu berjuang dalam kesendirian antara hidup dan mati.

Baca juga:  30 Unit Rumah Korban Bencana di Desa Gunung Kembang Siap Dibangun

Kebetulan pula musim durian kala itu, ibunda secara adat ditugasi menunggu durian jatuh di kebun Pugok di seberang Lematang (Tanjung Pandan) dengan didampingi oleh putranya yang kedua (Muhammad Thamrin) yang kala itu baru berusia 13 tahun masih SMP (sore).

Persis di bulan Maulud itu, tanggal 8 Januari 1950, putra ke-8 itu lahir dengan keadaan yang serba darurat di tengah kebun durian, jauh dari fasilitas kesehatan, jauh dari bidan apalagi dokter. Dengan sanitasi apa adanya saja, hanya Allah yang memberinya kemudahan.

Dengan usaha dan perjuangan sang kakak Thamrin, sang dukun berhasil dijemput dengan perahu menyeberang Sungai Lematang, karena bidan desa itu dari Ulak Bandung. Dengan berperahu, si Thamrin kecil mendayung menyeberangi Lematang. Alhamdulillah kelahiran yang diridhoi-Nya berjalan baik dan lancar. Tembuni dan ari-ari sang putra dibersihkan dan dihanyutkan di Sungai Lematang yang tenang mengalir.

Pada awal tahun 1955, kala itu usia penulis baru 5 tahun, kakek Rebangun tercinta wafat dalam usia 117 tahun menyusul nenek yang wafat dalam usia 105 tahun. Kakek Rebangun Kerio selalu kami kenang.

Walau usia penulis masih tergolong anak-anak kala itu, tapi ada suatu ungkapan kata yang terngiang di telinga, “Cucungku Goerillah, jadilah jeme besak yooo“ dan selalu kata-kata itu penulis ingat bak pepatah “Tak lapuk dihujan dan tak lekang dipanas”. Demikian jika kata-kata bersayap itu dibisikkan dengan ikhlas dan doa tentu menjadi berkah diperjalanan hidup seorang cucu. (*)

Penulis: M. Goerillah Tan (Pemerhati Lingkungan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *