oleh

Aktivitas Tambang Batu Akik di Desa Lubar OKU Selatan Diduga Ilegal

OKU SELATAN, ENIMTV – Beberapa bulan terakhir ini, aktivitas tambang ilegal yang ada di Desa Lubar, Kecamatan Simpang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan kembali ramai. Bahkan, yang sebelumnya hanya aktivitas masyarakat dengan membuat lubang galian, kini merambah lebih besar dengan adanya alat berat jenis ekskavator.

Keberanian para pelaku tambang ilegal untuk tetap melakukan aktivitas tambang batu akik jenis teratai di Desa Lubar ini, konon kabarnya dibekingi oleh oknum-oknum aparat tertentu.

Adanya aktivitas tambang ilegal ini menjadi sorotan dan pertanyaan anggota DPRD Kabupaten OKU Selatan pada saat rapat paripurna beberapa hari yang lalu.

Dengan adanya aktivitas tambang tak berizin alias ilegal ini tentu berdampak pada lingkungan sekitar. Rusaknya kondisi hutan dan lingkungan di beberapa lokasi penggalian batu akik, membuat Pemerintah Kabupaten OKU Selatan mengutus dinas terkait untuk survei lokasi dan mempertanyakan izin dari kegiatan tersebut.

Asisten II bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkab OKU Selatan, Hermansyah Said, S.I.P. membenarkan jika pihaknya telah turun ke lokasi tambang batu akik jenis teratai yang ada di Desa Lubar pada Kamis (30/09/2021).

Baca juga:  Jalin Silaturahmi, Kapolres OKU Selatan Adakan Tatap Muka Dengan Wartawan

Dikatakan Hermansyah, pihaknya turun ke lokasi guna memantau aktivitas pertambangan tersebut dan mempertanyakan izin dari kegiatan itu.

“Namun sangat disayangkan, aktivitas tersebut tak berizin alias ilegal,” kata Asisten II kepada awak media, Jumat (01/10/2021).

Lebih lanjut, Asisten II mengatakan pihaknya mememinta pelaku penambangan untuk menghentikan aktivitas tambang tersebut, mengingat perusahaan yang melakukan aktivitas itu tak mengantong izin.

“Selama pihak perusahaan belum mengantongi izin, maka kegiatan aktivitas tambang tersebut harus dihentikan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKU Selatan, Umar Safari, S.Sos. juga membenarkan aktivitas tambang batu akik di Desa Lubar tersebut ilegal dan tak berizin.

“Temuan kita di lokasi, kegiatan lambang tersebut tidak memiliki izin,” jelas¬† Umar, Jumat (01/10/2021).

Baca juga:  Dukung Kebijakan New Normal, Polri Masifkan Sosialisasi dan Edukasi ke Masyarakat

Terpisah, Juanda selaku Manajer dari PT Buay Tumi Lampung, yang diduga selaku penambang ilegal tersebut, mengaku pihankya hanya memiliki izin penjualan dan pembelian batu akik.

Dikatakan Juanda, hingga hari ini pemerintah pusat, provinsi dan daerah belum mengatur izin terkait tambang batu teratai.

“Untuk izin jenis batu teratai belum ada undang-undang yang mengatur,” kata Juanda.

Juanda juga mengaku pihaknya dalam satu bulan bisa mengangkut hasil tambang batu akik sekitar 10 ton, dari lahan lebih kurang 3-4 hektare, dengan sistem sewa lahan atau bagi hasil dari para petani.

Lebih lanjut, Juanda mengatakan, untuk harga pembelian batu tersebut pihaknya menjatuhkan harga bervariasi tergantung kelas dan kualitas batu. Selain itu, batu akik ini juga ditampung untuk diekspor ke luar negeri.

“Untuk batu ada beberapa kelas dan tergantung kualitasnya. Jika kelas B dihargai Rp25.000 hingga Rp30.000, Kelas A Rp65.000 hingga Rp80.000 dan kelas super di atas Rp150 ribu hingga Rp700 ribu,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Bareskrim Polri Tangkap Ustadz Maaher Atas Dugaan Ujaran Bernuansa SARA

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Desa Lubar, Hendri Johan saat disambangi di kediamannya mengaku mengetahui adanya aktivitas pertambangan tersebut. Dikatakannya juga, terkait kegiatan tersebut memiliki izin atau tidak dirinya tidak begitu mengetahuinya.

“Benar ada aktivitas tambang batu akik di dusun Tiga, Desa Lubar, tapi terkait memiliki izin atau tidak, saya kurang paham karena itu bukan wewenang saya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga mengakui jika ada oknum-oknum aparat yang kerap kali melihat atau meninjau lokasi tambang tersebut.

“Untuk fungsi dari oknum-oknum aparat tersebut saya kurang paham, apa selaku pengaman, atau pengelola dan pemilik, saya kurang paham,” terangnya.

Diketahui aktivitas tambang batu akik jenis teratai ini diduga sudah berlangsung lebih kurang dua tahun terakhir, dengan dugaan omzet miliaran rupiah dan tidak ada pemasukan untuk pendapatan asli daerah (PAD). (SMSI OKU Selatan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *