MUARA ENIM, ENIMTV – Seluas 132 hektar sawah di ataran Lecah Paye di Desa Tanjung Jati, Kecamatan Muara Enim mengalami kekeringan. Akibatnya, ratusan petani terdampak dan pertanyakan fungsi Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), Selasa 9 Juni 2026.
Ataran Lecah Paye sendiri memiliki luas kurang lebih 700 hektar yang terbagi di beberapa wilayah seperti desa Muara Lawai, Lubuk Empelas dan Desa Kepur, dan 132 hektar di antaranya terletak di desa Tanjung Jati.
Pantauan di lapangan, setidaknya ada 7 titik sumur bor JIAT yang dibangun, namun keseluruhannya belum bisa difungsikan secara maksimal, sehingga di bulan Juni mestinya sudah memasuki tanam. Namun petani tidak bisa melakukan bajak sawah karena mengalami kekeringan.
Ketua Gapoktan Sumber Harapan Desa Tanjung Jati, Fitriansyah mengatakan, kendala di ataran Lecah Paye ini soal pengadaan air karena sudah masuk musim tanam IP 200, selama ini petani memanfaat kondisi alam dengan melakukan tadah hujan.
Pada tahun 2025 lalu ada program pemerintah Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Namun pasca pembangunan di tahun tersebut hingga saat ini belum terasa asas manfaat terhadap pertanian masyarakat
Namun terkait kendala dari pada jaringan tersebut, masyarakat belum mengetahui secara pasti dan belum menerima penjelasan dari pihak pelaksana atas kendala yang mengakibatkan jaringan tersebut belum bisa mengaliri pesawahan masyarakat.
“Masyarakat berharap agar bangunan tersebut bisa segera dimanfaatkan secara maksimal untuk pengairan sawah masyarakat,” harapnya.
Lanjutnya, di bulan Juni harusnya sudah musim tanam, namun kondisi cuaca sepertinya sudah memasuki musim kemarau sehingga masyarakat benar-benar membutuhkan air untuk penanaman padi IP 200 dan mendukung program Presiden Prabowo mengenai ketahanan pangan.
Masyarakat sudah berupaya mengusahakan solusi atas kekurangan air seperti pembangunan sumur bor dan lain sebagainya hanya hal tersebut belum mencukupi kebutuhan.
“Petani berharap agar JIAT yang dibangun pemerintah segera dapat difungsikan untuk mencukupi kebutuhan petani untuk penanaman IP 200, hanya saja hingga saat ini masyarakat belum bisa merasakan fungsi nyata dari pembangunan tersebut,” katanya.
Luas keseluruhan ataran sekitar 700 hektar terbagi di desa Lubuk Emplas, Muara Lawai, Kepur, sementara di desa Tanjung Jati ini sekitar 132 hektar.
Pihaknya berharap bahwa JIAT segera bisa difungsikan untuk mengaliri sawah di ataran tersebut dengan luas kurang lebih 132 hektar dengan hasil panen rata-rata 10,5 ton per hektar.
Dalam keterangannya, bahwa JIAT ini termasuk pada proyek PSN, sehingga petani berharap segera diaplikasikan karena ada sekitar 500 Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan harapan terhadap lahan sawah garapan tersebut.
“Dari 500 KK tersebut 95 persen di antaranya merupakan petani, yang keseluruhannya berharap pada pengairan ataran tersebut, karena sudah berulang kali masyarakat mengalami gagal tanam saat penanaman padi IP 200 karena kurangnya air,” ujarnya. (Aal)








