MUARA ENIM, ENIMTV – Warga Dusun 7, Desa Pagar Agung, Kecamatan Rambang, Kabupaten Muara Enim, keluhkan kondisi jalan berlumpur. Pasalnya jalan tersebut merupakan satu-satunya akses keluar masuk mendukung perekonomian masyarakat setempat.
“Setiap tahun selalu saya usulkan di setiap Musrenbang, namun hanya dibantu 600 meter jalan cor, padahal jalan desa tersebut panjangnya sekitar 22 km,” ujar Kades Desa Pagar Agung Harlenson SE, Selasa 10 Februari 2026.
Menurut Harlenson, bahwa selama ia menjabat kades Pagar Agung selama 11 tahun (dua periode), setiap tahun ia mengusulkan untuk pembangunan jalan desa tersebut, sebab benar-benar sangat mendesak dan menyengsarakan masyarakatnya.
Namun setiap diusulkan selalu tidak terealisasi. Dan baru sekali diberikan bantuan yakni jalan cor beton sepanjang 600 meter di jalan desa tersebut.
Dikatakan Kades, bahwa jalan desa tersebut sudah dibangun sejak tahun 1977 lalu oleh masyarakat secara swadaya. Selama kepemimpinannya, ia sudah dua kali menganggarkannya dalam APDes masing-masingnya Rp200 juta untuk memperbaiki jalan tersebut menggunakan alat berat.
Bahkan pihaknya juga telah berupaya patungan dengan menyisihkan keuntungan dari menjual karet untuk membangun dan memperbaiki jalan tersebut namun karena membutuhkan biaya besar upaya tersebut tidak bertahan lama.
“Kita sudah melalui dana desa, patungan dan gotong royong bangun jalan tetapi tidak sanggup karena kondisi jalan berlumpur dan panjang yang memerlukan dana besar,” pungkasnya.
Dirinya, berharap kepada Pemkab Muara Enim, untuk secepatnya membangun jalan tersebut setidaknya dilakukan peningkatan jalan sehingga masyarakat yang beraktifitas terutama siswa dan guru bisa lebih mudah untuk mengajar.
“Kami tahu kalau dilakukan pengecoran itu memerlukan biaya yang besar, tetapi warga meminta setidaknya pengerasan saja dengan batu sehingga biar tidak mulus tetapi masih bisa dilintasi,” pungkasnya.
Masih dikatakan Kades, bahwa disepanjang jalan desa tersebut setidaknya ada tujuh talang (pemukiman) yakni Talang Sinar Padang, Talang Tebat Rawas, Talang Toman, Talang Kelaga, Talang Rumpuk Ubi, Talang Pairo/Telage Sepit yang dihuni sekitar 300 KK atau 500 mata pilih dan satu sekolah dasar.
“Sebenarnya jalan desa tersebut bisa tembus juga ke Desa Karya Mulia tetapi jalannya sudah rusak sebab dulu pernah kami rintis,” ujarnya.
Ketika dikonfirmasi ke Kadis PUPR Muara Enim melalui Sekretaris Iwan Setiawan SE MM, membenarkan jika jalan tersebut statusnya adalah jalan desa dan kondisinya memang masih tanah.
Jalan tersebut melintasi kebun milik warga dan beberapa pemukiman (talang) serta satu sekolah dasar. “Kami sudah survei jalan tersebut, dan ternyata memang masih tanah. Dan kita akan upayakan mencari solusi yang terbaik,” ujar Iwan.
Lanjut Iwan, statusnya jalan tersebut adalah jalan baru, makanya kita harus survei dahulu bagaimana kondisi dilapangan. Dari hasil survei pada APBD Induk 2026, sudah pihaknya anggarkan sebesar Rp1 miliar minimal untuk pengerasan terutama di titik-titik spot jalan yang hancur dan berlumpur sehingga untuk sementara masih bisa diakses masyarakat. Nanti pada ABT APBD 2026, barulah kita anggarkan lagi untuk pengerasan secara keseluruhan badan jalan.
“Jalan itu kalau mau langsung dibuat jadi biayanya cukup besar. Jika melihat kondisi saat ini sepertinya tidak mungkin sebab kita membangun harus skala prioritas,” pungkasnya.
Masih dikatakan Iwan, sebab dari hasil survei, jalan tersebut harus dibuat dengan sistim cor beton bukan di aspal karena dibeberapa titik sering banjir.
Untuk cor beton tersebut biayanya lebih besar daripada jalan aspal.
“Kita sudah hitung-hitung biayanya, jika dibangun secara keseluruhan bisa menghabiskan dana diatas Rp 100 miliar. Itu tidak mungkin dengan kondisi keuangan sekarang makanya harus bertahap,” pungkasnya.
Ditambahkan Kepala Bidang (Kabid) Pembangunan Jalan dan Jembatan Ari Jonathan ST MM, bahwa pada tahun 2024, kita telah melakukan pengecoran dipangkal jalan. Pada Tahun 2026, kembali di anggaran untuk peningkatan jalan. Karena jalan tersebut cukup panjang maka harus bertahap dan harus skala prioritas.
Lanjut Jonathan, untuk penanganan alternatif, mungkin akan meningkatkan jalan dari sekolah SD menuju ke jalan Segmen Kabupaten yakni Muara Enim – Lubai yang jaraknya hanya sepanjang 3 km sehingga nantinya masyarakat atau anak-anak sekolah bisa melewati dua akses jalan.
Sebab jika harus menunggu jalan desa sepanjang 25 km tentu akan lebih lama penanganannya karena harus bertahap. (Aal)








