Goeril: Burung Elang, Perlu Disayang

Berita, Daerah301 views

MUARA ENIM, ENIMTV – Kalau rezeki elang, tak akan dapat oleh musang. Begitu pepatah orang tua dulu menasehati anak gadisnya yang sedang dirundung duka. Tatkala si ibu mendekat sambil membelai rambut si dara lalu berucap lembut, “Nggak usah didengerin gosip tetangga yang sengaja memanasi hatimu, kalau kehendak Tuhan nanti dia memang milikmu, pasti dia akan kembali padamu“. Begitulah sang ibu yang bijak memberi nasehat kepada putrinya, dengan sebaris kalimat, dan sebuah ibarat saja ternyata mampu meredam keresahan hati anaknya.

Alam dan segala isinya memang beragam, namun pasangan (jodohnya) telah diatur oleh sang Khaliq. Mungkin yang rada cerewet dipasangkannya dengan yang pendiam, begitupun sebaliknya. Dan kalau ternyata nanti pasangannya “pas” alias setuluk (bahasa daerah Palembang), bisa dilihat tanda-tanda kekompakkannya, seiring sejalannya, searah setujuannya yang harmonis dan kelak awet jodohnya hingga maut memisahkan.

Burung elang merupakan simbol keharmonisan. Burung yang memang sangat terkenal bahkan siapa saja pasti tahu apa itu burung elang. Karena memang burung elang ini sangat mudah ditemukan di seluruh Indonesia. Dengan nama latin dari burung elang ini sendiri adalah Aquilla.

Ciri-ciri visual dari burung elang yang perlu diketahui adalah memiliki tubuh yang besar, gagah, nampak kekar dan kuat. Selain itu, kekuatan dari elang juga ada pada paruhnya, dan perawakan burung ini termasuk yang besar dibandingkan dengan jenis burung yang lain. Makanya burung ini juga menjadi salah satu burung yang ditakuti oleh beberapa hewan predator lainnya.

Fokus pada Tujuan dan Setia

Baca juga:  Ikut Sematkan Tali Toga, Pesan Juarsah kepada Wisudawan STI Tarbiyah: Jadilah Sosok Guru Profesional

Karena elang adalah burung pemangsa, maka ia memiliki kaki yang kuat dan memiliki kuku yang melengkung, tajam, dan kuat pula. Burung elang adalah burung yang memiliki penglihatan yang tajam yang bisa digunakan melihat dari jarak jauh (zoom), sehingga selalu siap untuk membidik mangsanya dari kejauhan. Dengan kemampuan elang yang sedemikian itu, maka kita bisa mengambil nilai pelajaran darinya sebagai manusia yang bijak.

Burung elang mengajarkan kepada manusia agar selalu fokus melakukan kegiatan (mission), untuk mencapai cita-cita (vision) dengan mengerahkan segala kemampuan terbaik yang dimiliki. Bahwa pelajaran baik yang dapat ditiru dari elang adalah “kesetiaan”, yakni suatu perbuatan luhur yang setia dengan pasangannya. Makanya sifat elang yang baik ini bisa dipetik hikmahnya, karena nilai kesetiaan kepada pasangan hidup merupakan nilai yang sakral. Kalau seekor elang saja bisa setia dengan pasangannya, kenapa kita tidak. Bahkan seekor belalang saja pernah cemburu kepada sifat elang ini, bahkan sekali waktu dia sesumbar, “kalau tak ada elang, akulah elang kata belalang”. Dan olehnya kita selaku manusia perlu cemburu kepada sifat baik semacam itu, kenapa tidak.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Demikian kata-kata bijak yang sering kita dengar, maka mengenal hewan yang sangat setia kepada pasangannya ini perlu kita telaah lebih jauh.

Setiap hewan pastinya memiliki berbagai jenisnya masing-masing, bahkan jika masuk ke dalam klasifikasi kelas dan famili yang sama, namun belum tentu jenis spesiesnya sama, itu pun jika sama halnya dengan elang. Di Indonesia ada berbagai jenis elang dari berbagai klasifikasi. Mulai dari makanannya sampai dengan dari mana elang tersebut berasal. Berikut ini adalah jenis-jenisnya:

  • Elang emas
  • Elang hitam
  • Rajawali tutul
  • Elang brontook
  • Elang bondol
  • Rajawali kuskus
  • Elang jawa
  • Elang paria
  • Elang ular bido
  • Elang tikus
  • Elang buteo
  • Elang perut karat
  • Elang gunung
  • Elang ikan kecil
  • Garuda
  • Elang ikan kepala abu
  • Elang sulawesi
  • Elang laut perut putih
  • Elang wallace
  • Elang flores
Baca juga:  Pj. Sekda Minta MoU Bersama BPJS Kesehatan Dikaji Ulang

Program Biodiversity PT SERD

PT Supreme Energy Rantau Dedap (PT SERD) yang mengelola proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) di kawasan Bukit Jambul – Gunung Patah, memahami benar akan pentingnya program biodiversity sebagai suatu keharusan. Dan keharusan itu tertuang dalam Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) yang diberikan oleh pemerintah melalui SK Menteri LHK Republik Indonesia. Dengan melestarikan hutan kawasan sekaligus menjaga dan memelihara semua mahluk yang ada didalamnya, baik berupa tanaman maupun hewan liar yang ada (flora dan fauna).  Dan burung elang yang ada (jenis elang gunung) termasuk hewan yang perlu dijaga kelestariannya. Sangkarnya yang ada di beberapa tempat yang umumnya berada di atas pohon asli hutan setempat, dibiarkan utuh sebagaimana awalnya dijumpai dan tidak diganggu atau ditebang. Dan menurut pengakuan petani (alm. Safarudin) yang berkebun kopi di sekitarnya, menerangkan bahwa elang dan sangkarnya itu telah bermukim disitu puluhan tahun lalu. Setahun sekali terdengar bunyi anaknya memanggil induknya, sementara sang jantan terbang mencari makan. Dan kebiasaan sang elang senang “menantang badai” lalu berselancar dengan tiupan angin gunung yang kencang yang sering laksana badai di musim kemarau.

Selain elang, kelestarian hewan lainnya tetap menjadi prioritas program, semisal penyediaan “Jembatan Penyeberangan Monyet” (JPM) yang habitatnya tersebar di beberapa tempat. Mereka perlu dilindungi agar kawasan yang mereka huni tetap aman dan nyaman bagi kehidupan mereka sehari-hari. Demikian juga halnya program biodiversity ini di bidang pelestarian hutan yang tertuang di dalam IPPKH, perusahaan berkewajiban melakukan penanaman kembali lahan kritis dalam kawasan Hutan Desa Segamit, Semende Darat Ulu (SDU) Muara Enim. Dan hal ini dilakukan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang ketat dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang ada di Kabupaten Muara Enim. Tentu semua ini sangat baik bagi pembinaan lingkungan hidup yang satu sama lain saling terkait.

Baca juga:  Malam Perkenalan dan Pamitan Kapolres Muara Enim

Hutan berikut isinya, menjadi media penyerap air hujan ke dalam tanah yang nanti akan terbentuk reservoar air gunung yang akan menjadi uap berkat pemanasan dari magma yang ada. Dan uap itulah yang kita cari untuk memutar turbin dan generator penghasil listrik (PLTP). Oleh karenanya, PLTP ini lebih populer sebagai penghasil energi baru dan terbarukan. Sebagaimana hujan yang terjadi secara alami, terserap ke dalam bumi lebih banyak berkat hutan yang lestari, sehingga sungai-sungai teraliri dengan baik dan wajar. Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi dan Lematang terlindungi dari banjir yang tak terkendali, maka betapa nyamannya hidup ini bak filosofi elang “Sekali sayap terkembang, surut kita berpantang”. (*)

Penulis: M. Goerillah Tan (Pemerhati Lingkungan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *