oleh

Hilangkan Stigma Wartawan Sulit Liput Sidang, Ini Penjelasan Ketua PN Stabat

LANGKAT, ENIMTV – Saat ini, muncul stigma di kalangan wartawan tentang sulitnya meliput persidangan di pengadilan, termasuk di Pengadilan Negeri (PN) Stabat Kelas I B. Buktinya, kalau dulu wartawan bebas meliput, bahkan para pengunjung juga bisa bebas masuk untuk melihat jalannya persidangan, kini wartawan yang mau meliput harus melapor terlebih dahulu.

Ketua PN Stabat, As’ad Rahim Lubis, S.H., M.H. menegaskan bahwa stigma itu tidak benar. Ia mengatakan PN terbuka untuk wartawan.

”Tidak sulit. Kami (Pengadilan) terbuka kok untuk wartawan,” ujar As’ad didampingi Panitera, Aslam Irfan Daulay, S.H. dan Humas Syafwan Siregar, S.H., M.H. kepada para wartawan dan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Langkat dalam acara audiensi yang digelar di PN Stabat, Selasa (12/1/2021).

Baca juga:  Gelar Aksi Solidaritas, Puluhan Jurnalis Lahat Dukung Polri Usut Tuntas Kasus Tewasnya Almarhum Demas Laira

Dilansir dari Inimedan.com, As’ad pun menegaskan, “Silahkan liput, asal jangan buat kegaduhan, sehingga mengganggu jalannya persidangan,” tegasnya.

Hanya saja, As’ad menambahkan, ada baiknya wartawan melapor dulu atau paling tidak menganggukkan kepala saja pun jadi. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan agar hakim atau panitera tahu keberadaan dan kapasitas wartawan dalam persidangan tersebut, apakah sebagai peliput atau sebagai pengunjung biasa.

”Ya, itu perlu, sebab sekarang segala sesuatunya memang sudah berubah dan sudah diatur sedemikian rupa, karena pengadilan adalah Zona Integritas dan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) serta Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Jadi, pelayanan yang diberikan adalah Pelayanan Terpadu Satu Pintu, di mana ruang sidang diubah,” jelasnya.

Baca juga:  TNI AL dan Indian Navy Gelar Latma Samudera Shakti 2019

Lebih lanjut, ditegaskan As’ad, perubahan yang terus dilakukan, di mana ruang pelayanan diletakkan di depan, sedangkan para pengunjung di belakang. Para tamu pun disambut dan dilayani dengan ramah.

“Hanya saja, maaf ya, tidak menerima tamu yang berhubungan dengan perkara,” ujar As’ad lagi sambil tersenyum.

Terkait dengan perubahan-perubahan tersebut, kata As’ad, pasti ada yang senang dan ada yang tidak senang, sebab mungkin saja ada yang sudah nyaman dengan pola yang lama.

“Jadi, kalau dulu nyaris tidak ada jarak, karena masyarakat, wartawan dan para pengunjung bisa bebas melihat dan meliput persidangan. Sekarang tidak bisa lagi, karena sekarang lebih tertib,” ujarnya.

Bahkan, tambah As’ad, dalam waktu dekat era sidang modern akan dimulai, di mana sidang direkam lewat monitor, sehingga bisa dilihat para pengunjung dari luar ruang sidang.

Baca juga:  Presiden Ingin Investor Dilayani dengan Baik Agar Investasi Berbuah

” Jadi, harus dipahami bahwa zaman sudah berubah. Meliput harus ada izin, tapi bukan untuk dipersulit. Melapor saja ke humas atau juru bicara pengadilan, bereslah itu,” ujar As’ad lagi yang notabene baru 6 bulan bertugas di Kabupaten Langkat.

Hal itu, menurut As’ad, dilakukan supaya ada konfirmasi dan tidak salah dalam penulisan beritanya. Jadi, bukan dipersulit atau mau membatasi tugas wartawan.

“Mungkin saja ada yang sudah nyaman dengan pola yang lama, sehingga tidak mau pola itu diganti (diubah). Namun, sejak tahun 2015- 2016 semuanya mulai ditata. Jadi, sedikit demi sedikit semuanya pun berubah,” tutupnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *