oleh

Kabar Gembira untuk Petani, Produksi D100 Pertamina Akan Serap 1 Juta Ton Sawit

JAKARTA, ENIMTV – Produk Green Diesel (D100) adalah bahan bakar diesel solar yang berasal dari 100 persen bahan nabati, yaitu diolah dari minyak sawit dengan katalis.

Produk D100 ini merupakan hasil dari pengolahan Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO) yang dilakukan oleh PT. Pertamina (Persero). Uji coba produksi D100 ini juga telah dilakukan di Kilang Dumai Pertamina sebesar 1000 barel per hari. Hal itu dijelaskan Deputy CEO PT Kilang Pertamina Internasional, Budi Santoso Syarif beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Indonesia Tegaskan Komitmen Dalam Memajukan Isu Kesehatan Pada Pertemuan Senior Officials Meeting Ke-47 Organisasi Kerja Sama Islam

Dilansir dari CNBC Indonesia, Deputy CEO PT Kilang Pertamina Internasional Budi Santoso Syarif dalam wawancara eksklusif pada Kamis (30/7/2020) mengatakan, pengembangan produksi D100 nanti juga akan dilakukan di Cilacap dan Plaju.

Di Cilacap akan menjadi 3.000 barel per hari dan kemudian di akhir tahun 2022 akan menjadi 6.000 barel per hari. Kemudian di Plaju sebesar 20.000 barel per hari.

Baca juga:  Pengurus IWO Sergai Lakukan Donor Darah di RSUD Sultan Sulaiman

Menurut Budi Santoso Syarif, untuk memproduksi 20.000 barel per hari dibutuhkan 1 juta ton sawit, sehingga cukup banyak sawit yang akan terserap.

“Sedangkan di 2023 sebanyak 20.000 barel per hari, untuk 20.000 butuh 1 juta ton sawit,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor mengatakan petani cukup bahagia mendengar Pertamina bisa memproduksi D100 dan menyerap 1 juta ton dengan kapasitas 20.000 barel per hari.

“Petani mendengar Pertamina bisa produksi D100 serap 1 juta ton, tentunya menggembirakan petani kita. Harapan kita Pertamina bisa hasilkan satu kebutuhan sawit 1 juta ton jadi 2 juta, tinggal mungkin ke atas komitmen pemerintah,” ucapnya.

Baca juga:  Keren! Tak Hanya MICE dan Sport, Sumsel Kini Andalkan Health Tourism

Ia berharap agar program pemerintah untuk menyerap sawit di dalam negeri terus dilanjutkan, dan tidak perlu takut dengan non-government organizations (NGO) asing.

“Pesaing makin jelekin kita. Kita punya harta karun, jadi kita nggak boleh ragu-ragu,” paparnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *