oleh

Gerakan Lintas Budaya, Agama, dan Generasi: Perusak Lingkungan Adalah Penghianat Negara dan Bangsa

RANGKASBITUNG, ENIMTV – Menjaga dan melestarikan lingkungan hidup merupakan tugas setiap warga negara demi keberlangsungan lingkungan hidup di masa mendatang. Cinta terhadap lingkungan hidup harus ditanamkan sejak usia dini agar kedepannya tidak terjadi pengrusakan terhadap lingkungan hidup.

1. Pelestarian lingkungan hidup merupakan tugas dan kewajiban setiap warga negara, maka negara menjamin keberlangsungan pelestarian lingkungan hidup demi masa depan bangsa.

2. Penanaman cinta terhadap lingkungan hidup harus dimulai sejak usia dini dan program pelestarian lingkungan hidup harus disesuaikan dengan perkembangan sains dan teknologi tanpa mengorbankan nilai – nilai kearifan lokal.

3. Pengrusakan terhadap lingkungan hidup merupakan sebagian dari pengkhianatan atas nilai – nilai budaya luhur bangsa dan negara.

Itulah tiga poin penting isi dari Deklarasi Nasional yang dibacakan bersama-sama oleh gerakan lintas budaya, lintas agama, lintas generasi untuk penyelamatan lingkungan pada Jumat (27/9) lalu, di La Tansa Hall, Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro, Jalan Soekarno – Hatta no 1, Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Para tokoh nasional, gerakan lintas budaya dan lintas generasi yang hadir adalah Prof Dr Jimly Asshidiqie, SH (Ketua Umm ICMI), Dr M. Jafar Hafsah (Sekjen ICMI), Dr Ir Saleh Abdurahman, Msc (Staf Ahli Bidang Lingkungan dan Tata Ruang Kementerian ESDM RI, Dr Ir hariynato MT mewakili Dirjen EBTKE Kementerian ESDM RI, Direktorat Konservasi Energi kementerian ESDM RI, Ir Helmi Basalamah MM, (Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM kementerian LHK RI, Budi Satyawan wardhana, Deputi I-Perencanaan dan Kerjasama Badan restorasi Gambut RI, Ade Sumarna (Wakil Bupati Lebak), Ir Priyono (Kepala Bagian Umum Ditjen PSP, Kementerian Pertanian RI), mewakili Dirjen PSP, Kolonel TNI Windiatno, Danrem 064 Maulana Yusuf, Propinsi Banten, mewakili Panglima TNI, Dr Suharno M.Kes (staf ahli Bidang Kesra dan SDM Kota Tangerang Selatan)mewakili Walikota Tangsel, seniman dan penggiat lingkungan Raja Asdi (inisiator), budayawan Remy Sylado (inisiator), musisi Sam Bimbo (inisiator), Ully Sigar Rusady (inisiator), tokoh R. Dono Sumarwoto serta jurnalis Didang mewakili kalangan pers.

Baca juga:  Apel Kesiapsiagaan Personil dan Peralatan Dalam Rangka Penanggulangan Karhutla 2021 di Kabupaten Muara Enim

Menurut Pimpinan Ponpes La Tansa, Dr Sholeh MM, salah satu inisiator kegiatan Deklarasi Nasional penyelamatan lingkungan hidup bahwa keseimbangan ekologis sekarang ini mulai rusak.
“Padahal kita sebagai manusia punya kewajiban untuk menjaga keseimbangan ekologis yang sudah diciptakan sejak Nabi Adam. Namun apa yang kita lihat sekarang ini, fakta sudah terjadi kerusakan alam. Maka manusia yang harus bertanggungjawab. Perguruan tinggi La Tansa mengajak mahasiswa mahasiswi harus peduli terhadap lingkungan. Kami berupaya menjadi ujung tombak dalam menjaga lingkungan dengan menanam sejuta pohon,” ujarnya.

Menurut Ketua Umum ICMI Prof Dr Jimly Asshidiqie SH yang pada hari itu memberi Studium Generale Green Contitusion, mengatakan bahwa Indonesia menghadapi situasi lingkungan yang sangat ekstrim. Di Jambi saja, misalnya, gara-gara asap, pada jam duabelas siang, gelapnya seperti jam 12 malam. Indonesia itu mempunyai alam yang ringkih. Kalau tidak ringkih tidak akan terpecah menjadi 17 ribu pulau. Di atas tanah Indonesia terdapat gunung berapi. Sementara di bawah tanah dan lautan terdapat patahan-patahan. Masih menurutnya, itu sebabnya harus dijaga bersama-sama. Dulu mungkin soal sosialiasi kesadaran penjagaan lingkungan hidup sebagai fardu kifayah, tapi saat ini setiap orang wajib menjaga lingkungan hidup merupakan fardu ain.

Baca juga:  Terkait Narkoba, Putri Sri Bintang Pamungkas Ditangkap Polisi

“Setiap orang wajib bertanggung jawab terhadap lingkugan hidup. Pentingnya merawat dan melestarikan lingkungan hidup, kebetulan Indonesia merupakan paru-paru dan jantungnya dunia. Maka, kerusakan lingkungan hidup di Indonesia bukan hanya menyangkut kita. Tapi masyarakat dunia ikut menjadi korban. Inilah perlunya menyadari pentingnya posisi Indonesia di dunia. Saatnya Indonesia memimpin dunia. Kita adalah bangsa ke empat terbesar di dunia. Kekayan alam kita nomer empat. Hasil karet kita nomer dua di dunia setelah Brasil. Jumlah penduduk nomer 4 di dunia. Tinggal masalahnya kualitas manusianya. Baik kualitas intelektualitasnya kualitas moralnya, dan akhlaknya. Kalau sudah sesuai standar internasional, maka pada saatnya Indonesia akan menjadi negara terbesar ke empat,” ungkap Jimly Asshidiqie.

Sementara menurut Raja Asdi, sebagai salah satu inisiator Deklarasi Nasional, bahwa lahirnya gerakan tersebut dari keprihatinan kita setelah melihat rusaknya lingkungan hidup di Indonesia. Kebetulan mereka yang hadir mempunyai keprihatinan yang sama. Di saat masyarakat lebih berpikir pada hal yang jangka pendek, mereka lebih memperhatikan lingkungan. Persoalan asap, sampah, sampah plastik maupun sampah elektronik, langkanya pangan dan lain-lain merupakan persoalan nyata yang harus dihadapi masyarakat Indonesia.

“Persoalan asap sudah terjadi sejak tahun 1997. Gangguan asap bukan hanya mengganggu bagi masyarakat Sumatera dan Kalimantan saja. Tapi negara tetangga juga ikut merasakan. Tapi pada tahun 2015 dan 2016, persoalan asap sudah mulai berkurang banyak sekitar 95 persen turunnya. Nah sekarang persoalan itu naik lagi,” ungkap Raja Asdi.

Raja Asdi menjadi penggiat lingkungan hidup sudah sejak lama. Bahkan pada 5 Juni 2000, Raja Asdi bersama Datuk Seri Al Azhar, Alm. Edi Ruslan P.Amanriza dan Almh Amarzan Loebis pernah memproduksi siaran Live selama di lima tv swasta, SCTV TPI, Indosiar, RCTI dan ANTV dalam acara bertajuk Persembahan Kepada Bunda Alam dalam rangka hari lingkungan hidup sedunia.

Baca juga:  Dirjenpas Tebar Benih Ikan Besama Gubernur NTB, Menuju PNBP 9 M

Sementara musisi dan seniman Sam Bimbo, yang juga bertindak sebagai inisiator dalam acara ini, dirinya telah lama berjuang di dalam penyelamatan lingkungan. Sam Bimbo, tak bosan-bosan menyerukan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup melalui karya musik dan karya lukis. Selain itu, dirinya aktif dalam organisasi Walhi.
Sam Bimbo pada kesempatan itu juga menyanyikan dua buah lagu yang berjudul ‘Sajadah Panjang’ dan ‘Bumiku Nusantara’.

Acara itu berlangsung dengan baik bersama 1.000 an mahasiswa La Tansa 2 Rangkasbitung hadir pada acara deklarasi dan studium generale Green Contitusion terasa tercerahkan tentang pentingnya menjagaalam dan merawat lingkungan hidup. Acara itu sesungguhnya lanjutan dari acara sebelumnya yang digelar pada Kamis (26/9/2019) berjudul Mahabbah Alam dengan di La Tansa 5 Lebak Banten dalam rangkaian salat Isya dan salat Istisqo (salat permohonan hujan), menampilkan Sam Bimbo, Jodhi Judono, Chavchay Syaifullah, Ully Hary Rusady memotivasi memelihara lingkungan hidup dipimpin Kyai Adrian bersama 3.000an santri.

Adapun sebagai Dewan Penasehat Gerakan Lintas Budaya/Agama/Generasi Bersama Merawat Lingkungan Hidup Bumi Pertiwi adalah Prof Dr.H. Jimly Asshidiqie SH, Prof. Dr. H. Buya Ahmad Syafii Maarif. Ir. Sarwono Kusumaatmadja.Prof. Dr. H. Said Aqil Siradj. Hendardi, Datuk Seri H. Al Azhar, Kafi Kurnia, Remy Sylado, Romo Benny Susetyo, Dr.Ronny F. Sompie, Dr. Jerry Marmen, Phd. WS Budi S Tanuwibowo.

Laporan, Gusti.
Sumber: Jodhi Yudono

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *